Film Bisikan Iblis, dari fantasi ke misteri

2018-09-25 18:48:04

MD Pictures kembali meneror penonton film Indonesia dengan sajian horor. Kali ini bukan lewat Danur, tapi Bisikan Iblis hasil adaptasi novel Ghost Dormitory karya Sucia Ramadhani. Sejumlah perubahan dilakukan. Tak lagi fantasi, tapi kental unsur misteri.

“Benang merah tentang persahabatan tetap kami pakai. Begitu juga karakter-karakter utamanya. Plotnya memang kami ubah. Efek visual kita belum nyampe kalo mau ikut versi novelnya yang ala Harry Potter,” ungkap Farhan Noaru selaku penulis skenario saat diwawancarai usai press screening di XXI Metropole, Menteng, Jakarta Pusat (10/9/2018).

Film arahan Hanny R. Saputra itu tayang di bioskop mulai 13 September 2018. Berkisah tentang Nany Halianson yang menjadi satu-satunya saksi ketika ibunya, Sophia, dibunuh sosok berjuluk iblis hitam.

Kejadian itu menyisakan trauma mendalam bagi Nany. Namun tidak ada yang memercayainya.

Delapan tahun kemudian Nany ingin sekolah di tempat yang sama dengan ibunya dan tinggal di Asrama Erly. Awalnya tak mendapat restu, Nany akhirnya diizinkan ayahnya, Frans.

Di asrama khusus perempuan tersebut, Nany bersahabat dengan Shila yang ramah dan Gie yang awalnya judes. Ia juga bertemu guru killer bernama Pak Arnold dan Bu Emil, kepala sekolah yang disiplin dan bijaksana.

Selain itu, Nany harus menghadapi Hilda dan Violet yang sering mengganggunya. Ketegangan mulai terjadi karena selama di Asrama Erly sosok iblis hitam kembali mengintai Nany.

Dengan sokongan Shila dan Gie, Nany berusaha menghadapi iblis hitam yang ternyata membawanya mengungkap tabir kematian ibunya delapan tahun silam.

Film yang keseluruhan syutingnya berlangsung di Cirebon, Jawa Barat, memakan waktu selama 21 hari.

Amanda Manopo (19), Rebecca Klopper (17), Zoe Jackson (16), dan Syafira Haddad (17) menceritakan pengalaman mereka selama terlibat dalam film ini saat mampir di kantor Beritagar.id, kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat (12/9). Berikut intisarinya.

Bagaimana proses awal keterlibatan kalian dalam film ini?

Zoe: Aku sebelumnya pernah membintangi film televisi (FTV) produksi MD Entertainment, jadinya sudah kenal beberapa orang MD. Waktu casting disuruh tes emosi. Misalnya bagaimana memarahi orang. Hal-hal semacam itu sih.

Waktu itu apakah langsung ditawari peran sebagai Gie?

Awalnya aku casting sebagai tokoh antagonis bernama Hilda. Cuma casting director-nya memilih aku memerankan Gie. Karakternya tetap galak, tapi enggak antagonis.

Syafira: Aku juga awalnya casting sebagai Violet. Tokoh yang karakternya judes banget. Mungkin karena enggak cocok sama karakter aku yang lebih kalem, pas diterima malah dapatnya Anastasia, putri Bu Emil.

Anastasia ini karakternya ramah, lugu, dan rapuh. Aku sih bersyukur banget kebagian peran Anastasia.

Amanda: Aku kebetulan langsung ditawari peran sebagai Nany. Diajak bergabung sama Mas Hanny. Pas baca skenario dan tahu komposisi pemainnya, aku langsung tertarik.

Setelah deal, aku ketemu sama para pemain. Besokannya foto untuk poster. Besoknya lagi langsung ke Cirebon untuk syuting. Jadinya kebanyakan reading di lokasi syuting. Sebelum pengambilan gambar kami reading dan latihan bareng acting coach.

Kapan proses itu?

A: Juli 2018. Selesai syuting awal Agustus.

Persiapan apa saja yang dilakukan untuk bermain dalam film ini?

A: Aku menonton beberapa film Indonesia yang bertema anak indigo. Salah satunya film Mereka Yang Tak Terlihat (2017). Selain itu mengikuti arahan pelatih akting.

S: Sebagai anak yang depresif dan jarang tersenyum karena banyak pikiran, aku latihan untuk mendapatkan feel-feel itu. Kebetulan ada satu persamaan karakter Anastasia dengan aku dalam kehidupan nyata. Sama-sama dituntut oleh orang tua untuk mendapatkan nilai yang bagus dan jadi number one. Cuma enggak sekeras tuntutan ibunya Anastasia.

Z: Kalau aku untungnya dapat karakter yang enggak terlalu ribet, jadi tidak ada persiapan khusus. Cuma karena Gie ini orangnya kaku, enggak gampang berbaur, dan kutu buku, aku harus mengeluarkan emosi dengan seimbang. Jangan terlalu datar dan ekspresif. Yang aku lakukan adalah berpikir seandainya berada dalam posisinya Gie.

Rebecca: Enggak terlalu banyak persiapan juga karena proses reading-nya cukup singkat. Cuma semingguan. Paling yang kami cari banget itu karakter yang pas untuk Shila. Dia itu kurang bersosialisasi. Berusaha berteman dengan semua orang, tapi enggak punya sahabat dekat.

Zoe dan Syafira, ini kan film pertama kalian. Bagaimana perasaannya saat melihat wajah kalian muncul gede banget di layar lebar?

Z: Sebenarnya ini bukan film pertama aku main. Ada satu film lagi hanya saja belum tayang. Tapi aku happy-happy aja sih. Apalagi ini film horor.

S: Karena baru melihat filmnya secara keseluruhan, aku senang melihat hasilnya. Sesuai ekspektasiku.

Untuk Rebecca dan Amanda, ini bukan film horor pertama, masih ingin main film horor atau mau coba genre lain?

R: Ini kan baru film horor kedua aku, tapi untuk saat ini ingin mencoba genre lain di luar horor. Mau nyobain main drama, komedi, atau thriller. Segala macam sih pengin dicobain. Tapi kalau dapat film horor lagi yang ceritanya menarik, aku masih pengin sih main lagi.

A: Aku kayaknya bakalan stop dulu main film horor. Soalnya Manda masih punya satu film horor yang belum tayang.

Stop khusus tahun ini saja? Tahun depan main lagi?

A: Tetap enggak mau main dulu. Soalnya ini bukan genre yang masuk kategori zona nyamannya Manda. Aku tuh spesialisasinya drama.

Sebagai ekranisasi, apakah kalian membaca novelnya?

Semua: Enggak sih. Panduan kami dari baca skenario.

A: Maaf ya Suci. Tapi tenang saja, kami akan beli kok novelnya.

Kalian kan baru pertama kali ke Cirebon, seperti apa kesan selama berada di sana?

A: Menyenangkan. Kami jadi tahu seperti apa orang-orang di sana. Becak masih jadi transportasi utama. Kami sempat nyobain naik tuh kalau ke mana-mana.

Z: Soalnya hotel tempat kami menginap terletak di tengah kota. Kalau mau bepergian ke mana-mana jadi gampang. Jalanannya juga enggak macet.

A: Hanya cuacanya panas banget. Untung kami syuting kebanyakan dalam ruangan.

Tanggapan orang-orang di sana bagaimana?

A: Wah selalu ramai. Sampai di hotel tempat kami menginap ada yang nongkrong. Mereka nyamperin kami. Padahal kami baru beberapa hari di sana. Lokasinya sudah kayak piknik deh karena mereka saling ajak untuk datang.

Film ini kebanyakan pemainnya perempuan dan usia kalian juga tidak terpaut jauh. Ibarat girl squad. Ada ketuanya?

A: Aku dong. Ha-ha-ha. Eh, tapi jangan salah. Mbak Ayu Dyah Pasha (54 tahun, pemeran Bu Emil, red.) juga anggota geng kami lho.

Biasanya kami ngerumpi. Ha-ha-ha. Paling sering sih kami makan bareng. Aku aja nih bawa dua koper dari Jakarta. Satu koper isinya makanan semua. Ternyata pas nyampe Cirebon, kami juga dikelilingi sama makanan. Jadi naik nih berat badan. Ha-ha-ha.

Di antara kalian, siapa yang paling tepat waktu?

A: Semuanya tepat waktu sih. Soalnya kita kan dijemput. Terkadang yang mengulur waktu justru yang menjemput. Mbak Anneke S. Souhoka (line producer, red.) yang malah menganjurkan kami tetap di hotel kalau kru masih ngeset alat perlengkapan syuting.

Apa hal spesial yang dimiliki film ini sehingga orang harus menontonnya?

A: Kalau kalian mencari film horor yang bukan sekadar jump scare dan hantu, film Bisikan Iblis menawarkan itu. Unsur dramanya sangat kuat. Main perasaan lah istilahnya. Saat adegan sedih, kalian juga bisa ikutan menangis.

S: Seram sudah pasti. Selain itu, film ini menawarkan apa yang dirasakan anak sekolah pada umumnya. Untuk ibu-ibu juga harus menonton film ini agar mereka lebih mengerti kemauan anaknya.

Z: Film ini bukan horor doang, tapi ada dramanya. Terutama soal persahabatan, juga kasih sayang seorang ibu. Harus nonton sih.

R: Setelah menonton, aku melihat banyak hal yang terkadang ibu-ibu enggak pahami dari anaknya. Banyak tekanan yang mereka bebankan kepada anaknya.

Mungkin mereka menganggap itu biasa saja karena untuk kebaikan, tapi kan anaknya belum tentu merasakan hal serupa. Terkadang secara mental malah mengganggu si anak kalau terlalu banyak pressure.

NEWS GALLERY

Gallery
RELATED
News
Buka Puasa Bersama, MD Perkenalkan 55 Karyawan Baru
Diwali 2012, Keberuntungan MD Berkat Shania Punjabi
Cinta Fitri Season 3 Sails to Singapore